Sejarah

Periode Diniyyah ” AWWALIYYAH” (Tahun 1937-1978)

Periode ini disebut sebagai periode “Awwaliyah” sebab merupakanperiode cikal-bakal lahirnya Pondok Pesantren Al-Kamal. Periode ini diawalidengan kiprah seorang alim ulama alumni Pondok Pesantren “Jampes” Kediri Jawa Timur yakni KH. Isan Ismail 1 yang mengabdikan dirinya untuk perjuangan ummat di desa Tambaksari Kuwarasan.

Perjuangan berpondasikan kecintaan pada Alloh dan Rasul-Nya diwujudkan dengan”ngampu masjid” ukuran + 6,5 × 10 m’ yang kala itu belum diberi nama, baru pada tahun 1979 masjid diberi nama Miftahul Anwar, yang nama tersebut merupakan hasil musyawarah Pengurus Badan Kesejahteraan Masiid.Selain “ngampu masjid” sang Kyai Ihsan mendirikan sebuah Madrasah Diniyyah yang didirikan pada tahun 1959.

Madrasah baru didirikan setelah putrinya Nyai Siti Mangkulah (yang sekarang bernama Hj. Siti Nururrohmah) menyelesaikan studi di Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta, dan sudah tidak menjadi guru SD di Bojonegoro Jawa Timur,karena tidak mendapatkan restu dari Kyai Ihsan. Waktu itu madrasah didirikan bersama dengan besan kyai Ihsan yakni H. Sidiq Glondong Tambaksari.

Perkembangan madrasah diniyyah menunjukkan tanda-tanda yang baik, sebagai bukti naiknya jumlah murid yang berkisar 50-an anak, yang di antara muridnya adalah Hayat Ihsan (Pimpinan PP. Al Kamal Pertama) Pondok Pesantren Al-Kamal), Sobirin Lemah Duwur dan Tumbles, dengan jumlah tenaga pengajar 7 (tujuh) guru, dengan penanggung jawab Nyai Siti Mangkulah yang dibantu bapak Tahrir. Untuk semakin meningkatkan eksistensi Madrasah Diniyyah, maka Kyai Ihsan berupaya terus untuk melengkapi fasilitas madrasah, yang salah satu upayanya adalah dengan meminta bantuan (sebagai wasilah Alloh) kepada seorang Pengusaha sukses dan juga salah satu pendiri Departemen Agama Republik Indonesia yakni

KH. Abu Dardiri, yang mana beliau dengan rela hat memberikan berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh KH. Ihsan untuk “ngurip-nguripi lan nggedekke” Madrasah Diniyyah seperti meja kursi, buku-buku tulis dan lain-lain, bahkan para dewan guru mendapatkan bantuan gaji mengajar setiap bulan. Perkenalan yang baik antara KH. Ihsan Ismail dan KH. Abu Dardiri.

berlanjut dengan sang putri Siti Mangkulah dilamar dan dinikah oleh KH. Abu Dardiri pada tahun 1960, yang kemudian baru pada tahun 1965 lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi penerus kesuksesan dari seorang KH. Abu Dardiri yang diberi nama Mohammad Yahya Fuad (yang sekarang menjadi pengusaha, pembina Yayasan Nurul Ihsan dan sejak tahun 2016 menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kebumen).

Setelah berpindahnya sang penanggung jawab madrasah yakni Nyai Siti Mangkulah ke Purwokerto, karena harus mengikuti suami, maka perkembangan madrasah mulai redup bahkan mengalami kemunduran yang pada akhirnya “tutup.” Meski begitu cita-cita luhur sang Kyai Ihsan untuk mendirikan Pesantren dilingkungan Tambaksari tetap kuat terpatri.

Meski hingga akhir hayatnya cita-cita tersebut belum berhasil terwujudkan.Kyai Ihsan wafat pada tahun 1978, yang kemudian cita-cita luhur beliau untuk mengembangkan pendidikan Islam berupaya untuk dilanjutkan oleh sang istri tercinta yakni Nyai Hj. Siti Sofiyah. * Beliau merupakan sook perempuan hebat yang memiliki kelebihan yakni “ngerti sebelum winarah”. Termasuk adanya pesantren besar di daerah Tambaksari sudah diprediksi jauh sebelumnya oleh Beliau, yang mana kala itu beliau mengatakan kepada sahabatnya yakni Ibu

Hadi Suwito; “Sesuk ono ing kene iki bakale ngadek Darul Islam, santri-santrine soko Wali songo Jawa Timur saben dinane mudun soko colt angkot yo mudun lewat dalan iku, para santri nek tak takoni njawabe kulo badhe pados ngelmu wonten ing mriki” (artinya: besok disini akan didirikan Lembaga Pendidikan Islam, yang mana santri-santrinya dari Wali Songo Ngabar Ponorogo Jawa Timur, para santri setiap hari turun dari kendaraan lewat jalan itu, beliau menunjuk jalan utara masjid,kalau ditanya mereka menjawab “(Akan mencari ilmu disini)”

Scroll to Top
×

 

Butuh Bantuan ?Hubungi Kami

× Butuh Bantuan ?