Periode Diniyyah “ATSANIYYAH” (Tahun 1987-1989)

Periode ini disebut sebagai periode Diniyyah Atsaniyyah, yakni periode lanjutan, dimana setelah masa tutupnya madrasah Diniyyah Awwaliyah, maka terjadilah kefakuman yang panjang yakni masa tidak adanya aktifitas  yang menunjukkan geliat pengembangan pendidikan Islam secara formal dan informal. Barulah pada tahun 1987, geliat untuk mengembangkan pendidikan Islam mulai tumbuh lagi. Hal ini diawali dengan didirikannya Madrasah Diniyyah Lailiyyah (madrasah malam) yakni pada tahun 1987 yang dimotori oleh KH. Hayat Ihsan.

Madrasah Diniyyah Lailiyyah6 in mempunyai murid anak-anak para warga sekitar masjidMiftahul Anwar, yang mereka sekolah formal ada yang setingkat SD, SMP, SMA yang jumlahnya sekitar 134 anak. Bahkan kala itu membuat sebuah ikatan remaja yang diberi nama IKARI] (Ikatan Remaja Islam Jaraksari). Adapun kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada waktu selepas Maghrib sampai dengan Isya dengan berbagai macam pengenalan dan pengkayaan materi agama, yang antara lain; Ilmu Figh, ilmu ‘Aqidah dan ditambahkan Bahasa Arab, Bahasa Inggris. Mereka juga diajar ilmu pidato (muhadloroh) bahasa Indonesia, Arab, Inggris, dan Jawa. Selain giat di bidang agama dan Olah Raga, kegiatan Madrasah Diniyyah Lailiyyah juga mempunyai peralatan musik Qosidah yang lengkap seperti Gitar stil 3 buah ditambah sound sistemnya. Sampai grup Qosidah dari Diniyyah yang tukang orgennya Arina Ismah ‘Afiyati binti K. Hayat terkadang terpakai di luar desa sampai di daerah Puring. Kala itu Nyai H. Siti Sofiyah masih hidup, sehingga beliau menyaksikan sendiri bagaimana perkembangan pendidikan keagamaan di dukuh Jaraksari, Tambaksari, sesuatu yang sebelumnya memang diharapkan oleh Kyai H. Ihsan Ismail.

Berbagai sarana pembelajaran Madrasah Diniyyah Lailiyyah Kala itu banyak dibantu oleh KH. Muhammad Sa’ad Nur, B.A? ( suami kedua Nyai Siti Mangkulah), yang antara lain seperti meja dan bangku, yang waktu itu Bapak Muhammad Sa’ad menjadi pemborong. Kayu-kayu jati yang dulu sebagai penguat jembatan kuno dan sudah tidak digunakan lagi kemudian di bawa pulang dan sedetan-sedetannya yang kecil-kecil diminta oleh K. Hayat untuk dibuat meja hingga sampai 14 meja bangku, yang sampai sat in meja tersebut masih ada, tetapi bangkunya dikarenakan dari kayu Alba sudah hilang rapuh, sudah termakan rayap. Kemudian tenaga produksi yang membuat meja dan bangku adalah tenaga suka rela bantuan dari Bapak WahidunS, dan kawan- kawannya. Karena di Dukuh Jaraksari desa Tambaksari in banyak terdapat para ahli pertukangan, maka dalam hitungan dua hari mampu membuat 14 setel meja dan bangku untuk para santri Madrasah Diniyyah.

Sayangnya, kiprah Madrasah Diniyyah Lailiyyah tidak berjalan lama, hanya bekisar dua tahun, yakni berakhir pada tahun 1989. Hal ini terjadi dikarenakan beberapa sebab; Pertama, dikarenakan kesibukan KH. Hayat Ihsan waktu itu yang terlalu sibuk ngurusi percetakan “PUTRA” milik kakaknya yang ada di Gombong, sehingga tidak banyak mencurahkan waktu ke madrasah Diniyyah Lailiyyah. Selain itu seringnya KH.Hayat Ihsan keluar kota untuk menyelesaikan urusan percetakan sampai di Bandung. Hal inilah alasan paling fatal yang menjadikan madrasah bubar. Kedun, ngurusi sendiri, pada waktu itu H. Bambang Soetadji mash berdomisili di Gang Puter Utara Stasiun Gombong, sehingga belum bisa membantu untuk madrasah Diniyyah Lailiyyah. Dengan bubarnya Diniyyah “ATSANIYYAH” mengakibatkan KH. Ibrohim Thoyyib Pimpinan Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar Ponorogo, marah pada KH. Hayat bahkan sampai istrinya Hj. Siti Afifah disuruh pindah rumah ke Ponorogo.

Scroll to Top
×

 

Butuh Bantuan ?Hubungi Kami

× Butuh Bantuan ?